Opini

Menulis Berita HIV dan AIDS Yang Lebih Membela

Menulis Berita HIV dan AIDS Yang Lebih Membela

Made Ariyasa.SE | Selasa, 18 Juni 2013 - 09:27:51 WIB | dibaca: 1265 pembaca

Oleh : Nanang Mubarok*


Dalam menyuguhkan informasi tentang HIV dan AIDS, media massa masih terjebak pada eksploitasi kesedihan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Berita tentang HIV dan AIDS pun masih kurang. Cerita klasik, idealisme wartawan pun sering berbenturan dengan pengusaha dan pasar.

Inilah bahan yang harus diubah, atau ya setidaknya dipikirkan pada momentum hari AIDS sedunia 1 Desember 2013 nanti. Semua pekerjaan jurnalistik adalah intervensi. Demikian ditulis nabel mc goldrick dan jake lynch dalam buku panduan bagi jurnalis untuk jurnalisme damai.

Pilihannya kemudian adalah etika dalam intervensi tersebut. Dan karena itu muncul pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan dengan campur tangan saya untuk bisa mendukung terciptanya perbaikan?”
Wartawan yang meliput dan menulis masalah AIDS jelas tengah melakukan pekerjaan intervensi-bahkan sampai pada ruang yang begitu privat dalam kehidupan seseorang.

Di sinilah diperlukan kematangan seseorang wartawan dalam tingkat yang maksimum. Alasannya, menulis pemberitaan AIDS menuntut seorang wartawan benar-benar berdiri di tengah. Baik dalam sudut pandang (angle) maupun dalam bentuk tulisan.

Jika seorang wartawan menulis terlalu mengedepankan pada cerita duka seorang pegidap HIV misalnya, dia bisa terjebak pada eksploitasi kesedihan.

Tulisan seperti itu memang menarik karena mampu membuat pembaca ikut berempati sekaligus bersimpati pada ODHA. Namun masalahnya sekarang, ODHA makin sadar bahwa dirinya bukan tidak ingin dikasihani atau bahkan dieksploitasi kesedihannya.

Tokoh pers nasional Ashadi Siregar pernah mengatakan, jurnalisme yang perlu dikembangkan saat ini adalah jurnalisme yang berempati pada penderitaan orang, baik berasal dari struktur sosial maupun individual.

Ashadi ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya tugas wartawan adalah memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Dalam melaksanakan tugas, wartawan dibimbing nilai-nilai dan misi jurnalisme, yang tertuang dalam etika pemberitaan adalah mengutamakan kepentingan umum dalam pemberitaan.

Jika disimpulkan dalam kalimat sederhana, disinilah letaknya sebuah idealisme pers dan idealisme jurnalisme. Namun masalahnya dalam prakteknya ini bukan hal sederhana.
Dalam interaksi sosial pertarungan abadi antara idealisme, kepentingan ekonomi selalu saja mengemuka.

Demikian juga dalam dunia pers. Saat pers sudah menjadi komoditas industri kapitalis, maka nilai-nilai idealisme sering kali menjadi pihak yang kalah. Mereka tunduk dilutut selera pengusaha media yang berorientasi pada selera pasar.

Nah, selera pasar Indonesia-paling tidak untuk saat ini – masih cenderung pada sesuatu yang berbau konflik apalagi dikemas bombastis. Makanya tidak salah jika sebuah survei mengatakan berita-berita yang disukai publik adalah berita yang berbau seks, darah (criminal) dan gosip. Mungkin ini banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kondisi sosial masyarakat.

Dalam posisi seperti inilah, para wartawan lebih sering menulis pemberitaan AIDS dalam format yang mengedepankan aspek kuantitatif. Misalnya peningkatan jumlah penderita AIDS dari tahun ke tahun atau banyaknya remaja yang melakukan seks bebas atau pengguna narkoba dengan jarum, atau yang sejenis itu.

Wartawan tampaknya enggan menulis berita yang lebih mengedepankan aspek kualitatif, misalnya keberhasilan ODHA bertahan hidup, mengasuh dan merawat anak-anaknya dengan normal.
Laporan-laporan semacam ini selain membutuhkan waktu panjang juga memerlukan wawancara yang mendalam dan kemampuan menulis yang baik dan biasanya dikemas dalam bentuk feature. Tulisan semacam ini memang membutuhkan keterampilan dan keahlian tersendiri.
Selain kendala waktu dan kemampuan, kendala lainnya adalah tidak semua media-terutama media koran harian yang menyediakan kolom untuk tulisan feature. Pengelola atau pemilik media beralasan, jika tulisan seperti itu memerlukan banyak kolom sehingga tidak ekonomis.
Ini berbeda dengan bentuk penulisan stright news yang hanya cuma dengan elemen dasar sebuah berita yaitu 5W+1H. Waktu tenggat atau deadline yang mepet juga menjadi kendala tersendiri bagi wartawan untuk bisa meluangkan waktu menulis feature berkualitas. Apalagi menulis investigative reporting.
Di sisi pembaca, dengan keterbatasan waktu lantaran kesibukannya, pembaca juga malas dengan tulisan yang panjang-panjang. bahkan kebiasaan pembaca di kota-kota yang sibuk hanya membaca judul dan lead berita semata.
Tidak dapat dipungkiri pemberitaan AIDS oleh pers kita frekuensinya belum tinggi. Ada pendapat ini terjadi karena kasus AIDS belum banyak ditemukan oleh wartawan-selain kendala-kendala di atas.
Salah satu bukti bahwa pemberitaan AIDS ini belum mendapat tempat yang layak dalam media adalah belum banyaknya berita AIDS yang menjadi berita utama dalam sebuah media cetak. Berita tentang AIDS selalu muncul di halaman dalam, itu pun dengan berita kecil dan pendek yang sama sekali tidak menarik minat khalayak untuk membacanya.
Kalau memang pendapat ini benar, ia tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menyiarkanberita tentang AIDS. Kendati AIDS oleh Michael Foucoult disebut sebagai fenomena diskursif, yang bisa hilang dan berganti dengan fenomena lain, namun yang harus dipahami oloeh wartawan dan pengelola maupun pemilik media adalah sindrom AIDS sangat berbahaya.
Artinya, jika seluruh unsur pers, baik itu wartawan, redaktur, pemimpin redaksi sampai pemilik modal memahamai betapa bahaya dan kompleksnya permasalahan HIV dan AIDS maka tidak ada alasan untuk mengalahkan idealisme pers dengan kepentingan pasar dalam pemberitaan masalah HIV dan AIDS.*** Sumber : Buku Lentera KPA Provinsi Bali Tahun 2006, Editor : Rohmat. *Penulis adalah Mantan Reporter di Koran Equator, Penulis di Media Kampus Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember.










Komentar Via Website : 76
obat kista
17 Agustus 2013 - 15:37:18 WIB
berkunjunglagi nih gan kesini... jangan lupa mampir ke halaman ane ya gan.. http://goo.gl/GDJcmW
obat kista
21 Agustus 2013 - 10:29:40 WIB
jago banget gan bikin artikelnya... silahkan mampir punya ane http://goo.gl/GDJcmW
obat jantung lemah
23 Agustus 2013 - 14:53:57 WIB
terimakasih atas informasinya... silahkan singgah ke halaman saya http://bit.ly/16C7cFx
obat gagal jantung tradisional
30 Agustus 2013 - 10:20:04 WIB
sukses selalu ya, webnya sangat informatif sekali. http://goo.gl/j1tOzB
Obat Herbal Lupus Terjitu
09 Desember 2013 - 10:05:35 WIB
Kapan Lagi ane baca artikel di website ini, mumpung ane lagi mampir and izinin gak nih gan mampir?? :)
Artikelnya ajib gan ..
Lewat mampir juga ya:
http://goo.gl/7hXghw
Obat Tradisional Jerawat Aman
13 Desember 2013 - 08:56:41 WIB
Sebelumnya Mohon Maaf Atas Kemampiran Ane Di Website Ini, Soalnya Ane Pengen Baca Aje And Artikelnya Ajib Gan :) Maaf Lagi Gan Ada Yang Lewat Nih: http://goo.gl/1M49SW
koperasi
13 Mei 2014 - 12:08:55 WIB
bookmarked!!, I really like your website! http://www.iwecha.com/koperasi343946
slimming capsule
20 Mei 2014 - 15:35:45 WIB
selamat beraktivitas ya ? http://tinyurl.com/m9ac9u6
obat pelangsing
26 Mei 2014 - 16:13:08 WIB
selamat beraktivitas kawan :) http://goo.gl/fExz5m
cara menurunkan berat badan secara alami
27 Mei 2014 - 09:04:04 WIB
selamat pagi ? http://goo.gl/9aVXaR
AwalKembali 123... 8 Lanjut Akhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)