You are here
Home > INFO & LAYANAN > I Made Suarnayasa, ‘Merangkul’ Pengidap HIV/AIDS di Bali

I Made Suarnayasa, ‘Merangkul’ Pengidap HIV/AIDS di Bali

Made Suarnayasa Berdoa untuk Para ODHA agar selamat dan Tabah jalani kehidupan. Sumber : Lentera Indonesia

Sosok Suarnayasa patut dijadikan tauladan bagi kita semua di Bali. Dari Pantauan KPA Provinsi Bali yang ditulis di media Lentera Indonesia yang diliput Anggi Crestamia dengan editor Yayan Supriyanto (19/06/2017), Made Suarnayasa terus berjuang merangkul Pengidap HIV-AIDS di Jembrana berkarya demi hidup mereka masing-masing. Berikut ulasannya.

“Hidup itu bukan untuk diri sendiri lagi. Sukses itu adalah bagaimana kita mampu bermanfaat bagi orang lain,”

Kata-kata tersebut terlontar dari mulut I Made Suarnayasa. Ia bertekad untuk bermanfaat bagi sekitar dengan terjun menjadi relawan di Komunitas Jalak Bali yang ia dirikan. Komunitas ini untuk membantu dan mendampingi orang yang mengidap HIV/AIDS (Odha) di Jembrana, Bali.

Berdirinya komunitas ini bermula ketika Made bertemu dengan seorang anak kecil dan ibunya di sebuah layanan kesehatan. Anak yang ditemuinya tersebut terlihat kurus dan ternyata mengidap HIV positif.

Melihat hal tersebut, Made langsung berpikir bahwa di tempat tinggalnya yaitu Jembrana pasti banyak yang mengalami hal serupa. Dari situ lah ide membentuk sebuah komunitas muncul.

“Komunitas ini bergerak dibidang sosialisasi HIV dan AIDS dan juga ada pendampingan.,” ujar pria yang kerap disapa Bli Dek No saat ditemui oleh Tim Lentera Indonesia pada April 2017.

Walapun bergerak di hal yang positif, namun tidak mudah bagi Made agar komunitas yang ia dirikan ini dapat lebih berdampak. Pelayanan secara maksimal harus diberikan kepada para pasien.

“Kami harus menunjukkan apa sih yang bisa kita bagi pada mereka, artinya informasi apa yang mereka butuhkan kami harus mencari bersama-sama dengan pasien. Menyambungkan keinginan pasien ketika ada keluhan, jadi pasien bisa menyampaikan ke kami dan kami bisa menyampaikan ke dokternya,” jelas Made.

Selain itu, para relawan yang tergabung juga haus memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi untuk melayani para Odha tersebut walaupun tidak didanai.

“Niat, komitmen, konsistensi dan yang keempat mampu menjaga kode etik menjadi seorang relawan haru dijaga. Menjadi relawan disini sebenarnya gampang-gampang sulit. Walaupun tidak didanai, tapi kita ingin memberikan sesuatu yang sedikit berharga untuk kabupaten kami.” katanya.

Niat baik Made untuk mendampingi para Odha pun tidak bisa datang dari satu sisi saja. Para Odha juga harus membuka diri agar mau didampingi. “Faktor keinginan berdampingan itu yah datang dari klien itu sendiri, kalau klien tidak ingin didampingi kita tidak akan masuk,” jelas Made.

Di komunitas ini, para relawan membantu Odha melakukan kegiatan ekonomi yang produktif. Walaupun terkena HIV, namun tetap dapat mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan.

“Saya berpikir bahwa saudara saudara kita yang terkena infeksi HIV itu mereka bisa mampu mempunyai pekerjaan kemudian berpenghasilan. Daripada kita memberikan langsung uang secara cuma-Cuma,” imbuh Made.

Made turut menjelaskan bahwa kualitas hidup para Odha yang didampingi jauh lebih baik dibandingkan yang tidak didampingi oleh para relawan di Komunitas Jalak Bali. Apalagi ketika ada Odha yang dapat menginspirasi Odha lainnya.

“Ketika lingkungan sudah mampu menerima mereka, berarti sudah seperti non Odha. Kemudian saat dia mampu memotivasi dirinya ia mampu menjadi inspirasi klien-klien kami yang lain. Mereka yg begini saja mau menginspirasi, kenapa yang mampu malah patah semangat, pengennya mati saja,” imbuhnya.

Kini, Made merasa hidupnya lebih bermanfaat dan secara tidak langsung ia merupakan penyala asa bagi para Odha. “Saya merasakan saya bisa hidup lebih baik dari hari kemarin sebelum saya masuk ke Komunitas Jalak Bali dan kualitas hidup juga lebih baik,” tutup Made.***Sumber : Lentera Indonesia. Ambara KPA Provinsi Bali

 

Leave a Reply

Top