You are here
Home > BERITA KPA PROVINSI BALI > Hari I TOT Konselor VCT di KPA Provinsi Bali, Pertajam Penemuan Kasus HIV-AIDS dan Penyebabnya

Hari I TOT Konselor VCT di KPA Provinsi Bali, Pertajam Penemuan Kasus HIV-AIDS dan Penyebabnya

DENPASAR, AIDSBALI.ORG

Pelatihan TOT (Trainer of Training) Konselor VCT Bali dibuka langsung Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali Drh Made Suprapta MM di ruang rapat KPA Provinsi Bali, Selasa (9/10) tadi. Dari diskusi para konselor yang langsung dipandu Kepala Sekreatariat dan Pengelola Program KPA Provinsi Bali, Dian Febriana, ternyata ada pergeseran pola pergerakan arah perilaku para remaja di Bali. Benarkah?

Persiapan Pembukaan Pelatihan dan Penyegaran TOT Konselor VCT Provinsi Bali di KPA Provinsi Bali

Acara Pelatihan dan Penyegaran tersebut berlangsung 4 hari dari 9 – 12 Oktober 2018 dan dihadiri        12 Orang peserta yaitu Puji Astuti dan Ni Made Putri Stuti Konselor RSU Wangaya, I Ketut Buanayasa konselor dari RSU Mangusada, Christian Supriyadinata dari Yayasan Gaya Dewata, Ida Ayu Sutarmi Konselor dari Yayasan Kerti Praja, Desak Yose dari Akbid Kartini Bali, Alvonso Novika konselor dari Yayasan Maha Bhoga Marga, Sagung Anom S Konselor Independen, dan Tim dari KPA Provinsi Bali.

Dari pernyataan Konselor Maha Bhoga Marga Alvonso Novika terungkap, saat ini memang telah terjadi pergeseran perilaku dari Nyuntik kemudian mengarah ke Minum. “Saat ini memang ada pergeseran perilaku terutama pecandu. Mereka bukan nyuntik, akan tetapi minum obat. terutama Khususnya amphetamin dan Sabu,”jelasnya.

Hal itu pun diperkuat pernyataan Konselor yang bertugas di RSUD Mangusada Kapal I Ketut Buanayasa. Buanayasa menambahkan, sampai detik ini memang ada pergeseran perilaku pecandu, Dan akhirnya mereka pun tidak bisa meregenerasi. “Salah satu contoh yang saya amati di rumatan metadhon di Tabanan. Dimana para pecandu memang ikut program tersebut, akan tetapi mereka juga tetap minum obat “terlarang” lainnya. Nah inilah yang menyebabkan meningkatkan hasrat seksualnya,”imbuh Buanayasa.

Sementara itu, Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali menambahkan bahwa hal ini memang sangat dilematis, “Di satu sisi mereka berubah perilaku, di sisi lain pun mengakibatkan efek baru terkait penyebaran HIV. Yaitu dari Nyuntik kemudian beralih menjadi heteroseksual,”lanjutnya. Pernyataan Made Suprapta juga diperkuat  oleh apa yang dipaparkan Konselor RSU Wangaya Ni Made Putri Stuti. “Apa yang dijelaskan Pak Made memang benar adanya. Saya pun menemukan di lapangan bahwa ketika tim VCT Wangaya bertugas, ternyata lebih banyak yang positif terkena infeksi HIV adalah Ibu-Ibu. Sedangkan sang suaminya negatif. Ini artinya perilaku perselingkuhan masih menjadi primadona dalam aktivitas seksual para wanita yang datang ke beberapa layanan,”jelasnya.

Sementara Ketut Buanayasa dan Konselor Independen yang sehari-hari melakukan konseling di beberapa tempat, seperti di Sanglah Sagung Anom S mengungkapkan, saat ini semua perilaku seksual remaja di Bali pun mulai bergeser. “Kalau dulu saya melakukan konseling, dari 60 orang yang ditest, ternyata sebagian besar terkena HIV karena hubungan Heteroseksual. Kalau saat ini arahnya berbeda. Dari 60 orang yang ditest dan positif, 10 orang terkena HIV karena perilaku Homoseksual mereka,”jelas Buanayasa. Di sisi lain, Sagung Anom menambahkan, inilah yang perlu dipikirkan bersama. Kalau tidak bisa diantisipasi awal. Kita justru akan mengarah ke tsunami AIDS ke depannya,”paparnya. ***Ambara-KPA Provinsi Bali.

Leave a Reply

Top