You are here
Home > BERITA KPA PROVINSI BALI > Gejala dan Cara Penularan HIV dan AIDS

Gejala dan Cara Penularan HIV dan AIDS

A. Gejala Penyakit HIV dan AIDS

Dilansir dari laman KidsHealth Liputan6.com, virus HIV memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat melumpuhkan sel darah putih secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan seringkali seseorang yang terjangkit HIV AIDS tidak menyadari bahwa dirinya positif mengidap Virus HIV.Berikut gejala HIV dan AIDS yang harus diketahui yaitu : Demam, gejala HIV dan AIDS awal dapat berupa demam ringan, sakit tenggorokan dan pembengkakan kelenjar getah bening. Jika seseorang telah memiliki tanda-tanda tersebut, virus mungkin telah memasuki aliran darah dan mulai merusak kekebalan tubuh. Selanjutnya disertai kelelahan dan sakit sendi. Ketika virus HIV AIDS memasuki tubuh sesorang, maka virus ini akan menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Karena sel-sel tubuh diserang, maka dapat menyebabkan kelelahan dan rasa sakit pada semua bagian persendian dan otot.

Penularan HIV dan AIDS tidaklah bisa berjalan dengan mudah.

Juga diikuti Ruam pada kulit seperti bisul dan jerawat yang tiba-tiba menyerang tubuh juga termasuk tanda awal dari penyakit ini. Penyakit kulit ini terjadi beberapa saat setelah orang itu terinfeksi HIV. An disertai diare yang terus menerus disertai dengan mual dan muntah juga menjadi tanda bahwa seseorang terinfeksi penyakit HIV AIDS.

Yang paling menonjol terlihat adalah seseorang mengalami batuk kering dan turunnya berat badan secara drastis juga merupakan tanda awal penyakit HIV AIDS. Hal ini terjadi karena virus yang menggerogoti imun tubuh sehingga tubuh tidak mampu berkembang dan berakhir dengan berkurangnya berat badan.

Kemudian mereka yang kerap berhubungan seksual beresiko akan mengalami flu yang tak kunjung sembuh, bisa jadi dua ciri tersebut adalah gejala penyakit berbahaya ini.***

B. Penularan HIV dan AIDS 

Pada laman Kompas.com disebutkan HIV dan AIDS dapat menular melalui darah atau cairan tubuh lainnya. Penularan HIV AIDS juga bisa terjadi melalui hubungan seksual dengan seseorang yang positif terjangkit penyakit ini. Itulah sebabnya penyakit ini identik dengan pergaulan bebas yang tidak sehat, seperti hubungan seksual.

Selain itu, penggunaan jarum suntik yang tidak steril juga menjadi penyebab tumbuhnya virus yang menggerogoti sistem imun tubuh ini. Namun, banyak mitos keliru yang beredar soal penularan HIV dan AIDS sehingga pengidap HIV dijauhi bukan berdasarkan alasan yang tepat.

Penularan HIV tidak melalui air liur, keringat, sentuhan, ciuman, gigitan nyamuk atau bekas toilet. Penularan HIV terutama berasal dari kontak cairan tubuh seperti darah dan sperma melalui perilaku seksual dan penggunaan jarum suntik.

Mengenai pemahaman akan HIV dan AIDS, ada yang masih menganggap HIV dan AIDS sebagai suatu kesatuan. Sebenarnya, keduanya menggambarkan kondisi yang sangat berbeda. Lalu, apa perbedaan HIV dan AIDS? Baca juga: 5 Mitos Keliru Seputar HIV/AIDS Mengenal HIV HIV adalah virus yang dapat menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Istilah “HIV” merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh.

Akibatnya, sistem kekebalan tubuh tidak dapat bekerja efektif. Sistem kekebalan tubuh kita bisa berperan menghalau virus yang akan menyerang tubuh kita. Akan tetapi, virus HIV justru menyerang sistem kekebalan tubuh. Namun, obat-obatan tertentu dapat mengendalikan HIV dengan memutus siklus hidup virusnya. Mengenal AIDS AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome. Jika HIV adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi, AIDS adalah suatu kondisi. Tubuh yang terkontaminasi HIV dapat menyebabkan pengembangan AIDS. AIDS, atau HIV tahap 3, berkembang ketika HIV telah menyebabkan kerusakan serius pada sistem kekebalan tubuh.

Ini adalah kondisi kompleks dengan gejala yang bervariasi untuk setiap orang. Gejala stadium 3 HIV terkait infeksi yang mungkin dialami seseorang akibat memiliki sistem kekebalan tubuh yang rusak dan tidak dapat melawan infeksi HIV. Infeksi HIV tidak selalu berlanjut ke tahap 3. Faktanya, banyak orang dengan HIV hidup selama bertahun-tahun tanpa berkembangnya AIDS. Baca juga: Diperingati Setiap 1 Desember, Ini Sejarah Hari AIDS Sedunia Berkat kemajuan dalam pengobatan, orang yang hidup dengan HIV bisa menjalani hidup seperti orang-orang pada umumnya.

Mereka yang didiagnosa AIDS pasti telah tertular HIV. HIV bersifat menular karena merupakan salah satu jenis virus. Sementara itu, seseorang bisa terkena AIDS jika mereka tertular HIV. HIV bisa ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh, hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik bersama. Selain itu, seorang ibu dapat menularkan virus HIV ke anak mereka selama kehamilan. HIV biasanya menyebabkan gejala seperti flu sekitar dua hingga empat minggu setelah penularan. Periode waktu yang singkat ini disebut infeksi akut. Sistem kekebalan mengendalikan infeksi, yang mengarah ke periode latensi.

Sistem kekebalan tidak dapat sepenuhnya menghilangkan HIV, tetapi dapat mengendalikannya untuk waktu yang lama. Selama periode latensi ini, yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun, seseorang dengan HIV mungkin tidak mengalami gejala sama sekali. Namun, tanpa terapi antiretroviral, orang tersebut dapat mengembangkan AIDS dan mengembangkan banyak gejala yang terkait dengan kondisi tersebut.***Ambara Pengelola Program Media KPA Provinsi Bali

Leave a Reply

Top