Fokal Point Adakan Pertemuan, Agar TOGA dan TOMAS Paham Kebutuhan Ponci

DENPASAR, AIDSBALI. “Kami ingin mengingatkan kembali kepada Tokoh Agama (TOGA) dan Tokoh Masyarakat (TOMAS) agar mereka memahami kebutuhan hak dasar populasi kunci (Ponci) dan berkomitmen untuk ikut berperan menanggulangi HIV dan AIDS di Bali, “ kata Koordinator Fokal Point Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Bali Komang Sumartini saat membuka acara Pertemuan Advokasi dalam rangka menjalin dukungan TOMAS dan TOGA dalam Penanggulangan HIV-AIDS di Sekretariat KPA Kota Denpasar, Pukul 10.00 Wita – 13.00 Wita Kamis 8 Oktober 2020.

Hal ini lanjut Sumartini adalah pertemuan awal yang dilakukan Fokal Point OPSI Bali, yang selanjutnya akan dilaksanakan secara rutin. Selain untuk menjalin dukungan TOMAS dan TOGA, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui situasi terkini tentang HIV-AIDS  pada setiap wilayah, khususnya Kota Denpasar serta memfollow up terhadap isu-isu negatif yang terjadi saat ini.

Acara tersebut diikuti 18 orang peserta dan dipandu Ketut Sukanata, SH. Para peserta kegiatan tersebut diantaranya adalah paralega, ACS, KPA Kota Denpasar, OPSI Bali, KJPA, Yayasan Kalpelata, Yayasan Kerti Praja (YKP), Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Bali, Yayasan Spirit Paramacitta, TOMAS yaitu dari banjarTegal Sari Desa Adat Panjer, PKK Banjar Tegal Sari Desa Adat Panjer, TOGA yaitu Rema dari perwakilan Agama Kristen dan Mohirudin dari Perwakilan Agama Islam serta satu orang penegak hukum.

Dalam memfasilitasi kegiatan tersebut, Ketut Sukanata pun memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengungkapkan beberapa hal yang menyebabkan masih berkembangnya stigma dan diskriminasi di lapangan.

Melalui metode Forum Group Discussion (FGD), Diskusi dan Tanya jawab, banyak hal yang diperoleh, diantaranya adalah dari Rema dari perwakilan Agama Kristen menuturkan bahwa masih banyak stigma yang berkembang di kalangan masyarakat, adanya istilah mereka yang terinfeksi HIV adalah orang yang “Gatal” serta implikasi yang lainnya di media social. Padahal menurutnya sebenarnya itu tidaklah benar.

Gery dari YSP mengungkapkan, mereka yang terlanjur menjalankan aktivitas sebagai pekerja seks tersebut sudah mentok. Artinya mereka tidak memiliki keinginan untuk masuk ke profesi tersebut. “Kita jangan menghakimi mereka sebagai wanita yang tidak bermoral,”katanya.

Sementara itu, Christian Supriyadinata dari Yayasan Kalpelata menuturkan, ketika menerima informasi, maka informasi yang tersebar tersebut tidak digeneralisir. Artinya ketika ada satu orang yang terpapar HIV maka info itu digeneralisir dengan dugaan semuanya terkena. “Jadi kita harus berhati-hati menyampaikan informasi terkait hal tersebut,”katanya.

Mohirudin Tokoh Agama Islam memberikan pandangan terkait Ucapan yang melecehkan Para Pekerja Seks

Mohirudin dari Tokoh Agama Islam mengatakan bahwa sebagai tokoh agama, dirinya malah kasihan mendengar hal tersebut. “Kita punya program yang merangkul semua pihak, dan mengajak mereka untuk bertobat. Tentunya kita dekati sesuai dengan masalah yang dihadapi,”katanya.

Ketut Artawinaya, Tokoh Banjar Tegalsari Desa Adat Panjer dan Ibu Astini selaku perwakilan PKK Banjar Tegalsari Desa Adat Panjer malah mengharapkan kepada Fokal Point serta Pegiat HIV-AIDS untuk terjun ke masyarakat memberikan informasi yang benar tentang HIV-AIDS.*** TIM