Meneguhkan Organisasi FPA, Menanggulangi Epidemi HIV di tengah Pandemi Covid-19

Musyawarah Forum Peduli AIDS (MUSPA) Bali digelar secara perdana, Rabu, 1 Juli 2020 sesuai protokol kesehatan pandemi Covid-19. Pertemuan ini digelar di ruang pertemuan PKBI Daerah Bali, Jln Gatot Subroto IV No.6 Dauh Puri Kaja Denpasar dan diikuti pengurus inti serta anggota  FPA Bali secara terbatas (20 orang).

Momen pertemuan ini sangat penting dalam sejarah penanggulangan AIDS di Bali, karena agenda utama Musyawarah Forum Peduli AIDS (FPA) Bali adalah: menetapkan Dewan Kehormatan kepengurusan FPA Bali periode 2020-2024. Dilanjutkan dengan membahas Penanggulangan epidemic HIV ditengah pandemi Covid 19

Sebagaimana diketahui bersama, Forum Peduli AIDS (FPA) Bali merupakan organisasi sosial nirlaba yang beranggotakan pegiat HIV-AIDS (baik perorangan maupun lembaga) untuk mendukung upaya Penanggulangan HIV di Bali. Di Bali, Forum Lembaga Peduli AIDS (FLPA) telah lahir pada tahun 1997. Gerakannya berbasiskan pencegahan, menghapus stigma dan deskriminasi. Dasar lahirnya FLPA waktu itu lebih karikatif dan empati dan berfungsi sebagai media koordinasi, kerjasama, dan media konsultasi.

Menurut Drs. Made Efo Suarmiarta, MSi, FLPA yang lahir tahun 1997, pada tahun 2019 menjadi Forum Peduli AIDS (FPA) yang orientasi gerakannya lebih komprehensif dan memiliki multi fungsi, yakni: sebagai media koordinasi, komunikasi,  penguatan kapasitas, dan media advokasi. Diharapkan, FPA merupakan mitra pemerintah dalam mengefektifkan upaya pencegahan dan Penanggulangan AIDS di Bali.

Kepemimpnan FPA Bali didesaign secara kolektif kolegial, mewadahi semua potensi masyarakat Bali untuk penanggulangan AIDS di Bali. Disamping ketua organisasi, struktur kepemimpinan FPA Bali juga dilengkapi dengan Ketua Bidang Etik dan Ketua Bidang Pendidikan.

Selain itu, dalam operasionalisasi kegiatan program kerjanya, FPA Bali dilengkapi dengan 4 deputi, Meliputi: Deputi Penguatan Kelembagaan dan Sumberdaya, Deputi Kemitraan, Deputi Media dan Advokasi Serta Deputi Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Pandemi Covid-19 telah merubah berbagai segi kehidupan, termasuk kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kesehatan. Di tengah pandemi  Covid-19, penanggulangan epidemi AIDS memerlukan pendekatan dan strategi yang tepat, termasuk dalam kegiatan penjangkauan, perujukan, pelayanan kesehatan (pengobatan), dan pendampingan pasien  HIV.

Untuk merespon kondisi  ini, maka dalam MUSPA FPA Bali kali ini juga dibahas secara khusus penanggulangan AIDS di tengah Pandemi Covid 19 dengan nara sumber utama Prof. DR. dr. Ketut Tuti Parwati Merati, SpPD-KPTI, FINASIM, selaku pendiri cikal bakal FPA Bali sekaligus sebagai penemu I kasus HIV di Indonesia.

Menurut Prof Tuti, pandemi Covid 19 telah mempengaruhi proses Penanggulangan AIDS, termasuk proses pelayanan pengobatan bagi ODHA. Jika dilihat dari data yang ada, hanya sebagian kecil ODHA yang terkena Covid-19 (skitar 1%). Jadi risiko terkena Covid-19 adalah sama untuk semua orang. Untuk  itu, protap kesehatan (cuci tangan, pakai masker, jaga jarak) perlu ditaati semua orang, agar terhindar dari Covid-19.

Diperlukan koordinasi yang intensif antara penjangkau dan petugas layanan kesehatan. Selain itu, distribusi obat ARV juga perlu diatur sesuai stok obat yang tersedia. Adanya pembatasan mobilitas di era Covid 19, distribusi ARV jadi terganggu, sehingga alokasi dan distribusi obat kepada ODHA juga diatur sedimikian rupa. Pemerintah terus berupaya menjamin ketersediakan dan distrubsi  ARV  sehingga kesehatan ODHA tetap terjamin. Diharapkan, dalam situasi pandemic Covid 19 upaya pencegahan dan penanggulangn AIDS di Bali tetap dapat dijalankan secara efektif***

Kontributor : Drs Yahya Anshori, M.Si KPA Prov Bali

Editor : Yuniambara, KPA Prov. Bali