Meskipun Pandemi Covid 19, YSP Terus Bergerak Tanggulangi HIV-AIDS

Tantangan berat dihadapi semua lembaga di Bali saat Pandemi Covid-19 terjadi. Demikian pula yang dialami semua LSM Peduli AIDS. Salah satunya adalah Yayasan Spirit Paramacita (YSP). Hal ini disampaikan Ketua YSP, Putu Ayu Utami Dewi, SE,MM saat diwawancarai aidsbali.org via Telp, Selasa, 23 Juni 2020.

Ketua YSP, Putu Ayu Utami Dewi, SE, MM sedang diskusi dengan Layanan HIV-AIDS

YSP yang dipimpin Putu Ayu Utami Dewi, dan beralamat di Jalan Raya Sesetan No 158 Denpasar ini, sangat sibuk dengan kegiatan koordinasi dengan stakeholder untuk mencari solusi upaya penanggulangan AIDS yang bisa dilakukan saat ini. “Maaf ya Dik Yuli, saya sedang sibuk mengatur jadwal untuk bisa berbincang-bincang via telp,”katanya.

Pimpinan YSP ini merupakan salah satu aktivis yang memperjuangkan nasib para Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA), sejak ditemukannya HIV-AID pertama kali di Bali. Pada masa pandemic Covid-19, YSP tidak menyerah dengan keadaan. Lembaga ini terus melaksanakan aktivitas, agar para ODHA tetap bisa menjaga kesehatannya serta rutin minum ARV.

“Kami terus melaksanakan aktivitas serta aktif mendorong para relawan mendampingi teman-teman ODHA untuk rajin minum obat dan menjaga kesehatan mereka,”katanya. Putu Ayu Utami Dewi juga menuturkan, YSP selama pandemi  ini terus aktif melaksanakan kegiatan. Diantaranya  membantu cek kesehatan CST di Layanan RSUD Kabupaten dengan memakai jam shift kerja,

Selain itu, imbuh Putu Ayu Utami Dewi, dari Januari sampai dengan Juni 2020, YSP melakukan komunikasi dengan KDS (Kelompok Dukungan Sebaya) secara Virtual. “Untuk Daerah Tabanan saja yang dulu sekitar 20 orang anggota, sekarang 10 orang dengan target dampingan 210 per staff dalam satu semester,”katanya. Karena hal itulah, YSP melakukan Pertemuan dengan Stakeholder, pendampingan kekerasan atau Stigma Diskriminasi terhadap ODHA ke rumah-rumah.

Saat ini, jelas Putu Ayu Utami Dewi, memang ada beberapa kendala yang dialami di lapangan. Diantaranya adalah proses pendampingan rutin dilakukan relawan. “Biasanya staf YSP yang mendampingi ODHA, akan tetapi sekarang dengan situasi saat ini, staf kita tidak diperbolehkan untuk berjaga dan mengadakan pendampingan di layanan,”katanya.

Putu Ayu Utami Dewi juga mengungkapkan bahwa pendampingan untuk ODHA yang mengalami stigma diskriminasi tidak bisa dilakukan. “Selain itu pula, Pertemuan koordinasi KDS, akhirnya tidak bisa terserap. Hal ini disebabkan karena tidak semua odha mempunyai alat komunikasi android,”jelasnya. ***

Reporter : Ni Made Yuliati KPA Prov. Bali

Editor : Yuniambara KPA Prov Bali