Tersentuh Empati, I Komang Sutrisna Menikmati Hidup Jadi Relawan

Direktur PKBI Bali,              I Komang Sutrisna

Rasa empati I Komang Sutrisna terhadap permasalahan sosial saat menjadi Jurnalis,masih mengalir deras dalam darah. “Karena rasa empati itulah, saya pun menjadi bagian dari Jurnalis Peduli AIDS dan mengembangkan Konsultasi HIV/AIDS di Mingguan DenPost. Konsultasi ini diasuh oleh Prof. Tuti Parwati, sedangkan saya menjadi penanggung jawab rubrik dan Redaktur Mingguan di DenPost, dari tahun 2002 – 2008,” katanya ketika diwawancarai Tim AIDSBALI Ida Ayu Masyeni, via telpon, Selasa 23 Juni 2020.

Direktur PKBI ini pun menuturkan lebih lanjut kisahnya, ketika ditanya tentang mengapa dirinya bergabung dengan PKBI. “Saya mencoba menarik kembali ingatan ketika awal-awal masuk menjadi relawan Kisara PKBI Bali. Saat itu, saya masih sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Unud, sekitar tahun 1994/1995. Kisara baru terbentuk pada 14 Mei 1994. Kisara adalah program remaja PKBI Daerah Bali sebagai pusat informasi dan konseling remaja saat itu. Banyak kegiatan yang dilaksanakan untuk menjangkau remaja. Seperti memberikan penyuluhan, ceramah remaja dan kegiatan penjangkauan remaja beresiko,”jelasnya

Lelaki yang suka berorganisasi dan mantan Jurnalis Denpost ini pun  sejak Kuliah di FH Unud, sangat antusias dengan kegiatan Jurnalistik. “Saat itu, saya sudah mulai menulis dan menjadi Pemred untuk Majalah Kampus Kertha Aksara FH Unud serta mulai menulis di Bali Post Minggu sebagai kontributor lepas,”paparnya.

Sementara itu, karena aktif berorganisasi, maka Komang Sutrisna juga, dipilih menjadi Ketua Senat FH Unud. “Disini saya harus bisa mengatur waktu, karena di satu sisi saya gemar menulis, dan di sisi lain terpilih menjadi Ketua Senat FH Unud. “Dan saat krisis multi dimensi negara, serta reformasi negara berkumandang, menyeruak pula masalah-masalah remaja yang sangat komplek ketika itu.

Komang Sutrisna ingin ikut berproses bersama relawan lainnya, karena melihat permasalahan yang dialami remaja sangat komplek dan makin rumit. “ Yang menginspirasi saya saat itu adalah hasil penelitian-penelitian yang diungkapkan dr. Wimpie Pangkahila di Bali Post. Dimana menyangkut pergaulan remaja dan permasalahan remaja yang makin meningkat saat itu. Serta berbagai upaya untuk memberikan kesadaran tentang kesehatan reproduksi,”akunya.

Lelaki murah senyum ini menuturkan, dirinya memulai aktivitas relawan dari awal di Kisara PKBI Bali.  “Kami membahas dan mengkomunikasikannya, serta menjangkau remaja-remaja yang beresiko dan ada pula yang sudah terpapar HIV/AIDS. Sehingga tersentuh hati saya, untuk mengangkat kondisi itu dalam Skripsi saya tentang perlindungan hukum bagi mereka. Sangat miris, di tahun-tahun 90 an itu, ketika stigma kepada mereka begitu kuat di masyarakat.,”jelasnya.

Sehingga, sampai saat ini, masih lekat di hatinya untuk rasa kebersamaan membangun kesadaran dan perlindungan kepada generasi muda bangsa akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksinya. “Karena pengetahuan Kespro ini, bukan sekadar mengetahui alat reproduksi, namun jauh dari itu, yakni menjaganya dengan baik dan bertanggung jawab. Karena masalah yang ditimbulkannya multi dimensi,”katanya.

Semenjak  menjadi Tim di Kisara PKBI Bali, Komang Sutrisna pun berproses bersama relawan lainnya. “Untuk menjadi relawan, ternyata banyak tantangan yang dihadapi, diantaranya adalah menyentuh kesadaran dan kepedulian remaja akan pentingnya menjaga diri dan menjadi remaja bertanggung jawab. Selain itu, tidak hanya masalah Kespro, juga menjadi masalah ikutannya yakni permasalahan narkoba, IMS dan HIV/AIDS,”imbuhnya.

“Semua masalah remaja ini, ketika itu menjadi perhatian kita bersama di Kisara. Kami menilai, masalah tak sekedar selangkangan dan alat-alat reproduksinya, namun menjadi masalah multi dimensi yang harus disikapi dari usia dini. Berproses jadi relawan, sampai akhirnya, saya dipilih menjadi Koordinator KISARA dari tahun 1997 – 2000,”ungkapnya.

Dalam berproses menjadi relawan ini, rasa empati itu muncul dengan sendirinya. Karena sering berhadapan dengan permasalahan remaja sebenarnya. “Kami banyak mempunyai relawan remaja dari kalangan beresiko, kehidupan mereka yang hancur-hancuran dan berbagai masalah yang kadang membuat kami tak percaya. Kami terus bertekad menyentuh kesadaran mereka dan menjadikan mereka relawan untuk remaja lainnya. Teman sebaya dan menyentuh kepedulian untuk sesama,”paparnya.

Di penghujung tahun 1999, Komang Sutrisna harus menyelesaikan kuliah yang tertunda oleh kerja-kerja kerelawanan tersebut. “Skripsi yang saya ambil pun tentang HIV/AIDS, dengan mengangkat tentang Perlindungan Hukum kepada ODHA ditinjau dari Hukum Pidana dan Hak Asasi Manusia. Usai menamatkan S1 Hukum, saya bergabung dengan Kelompok Media Bali Post dan menjadi Wartawan pada Harian DenPost serta menjadi presenter di BaliTV,”tuturnya.

Tahun 2017, Komang Sutrisna akhirnya mengundurkan diri menjadi Jurnalis, karena proses spiritual yang harus dijalaninya. “Proses yang membuat saya harus paham tentang proses perjalanan hidup. Berbarengan dengan itu, saya dilantik dan disumpah menjadi advokat. Inilah proses perjalanan yang mungkin tidak dapat ditebak dan dimengerti. Akhirnya, saya kembali ke PKBI Bali karena ada proses pemilihan Direktur Eksekutif untuk menggantikan Bapak Ketut Sukanata yang memasuki masa pensiun,”akunya.

Proses ini, selalu disyukuri dan dinikmati Komang Sutrisna. Karena proses waktu yang menempa dirinya sebagai seorang relawan dimulai di Kisara PKBI Bali, dan akhirnya Ia pun harus mengabdi dan menjadi relawan kembali.

Masa pendemi Covid-19 ini, Komang Sutrisna menuturkan dirinya harus memutar otak, berpikir keras menjadi cara tetap menjalankan program penjangkauan terhadap remaja. Jangan sampai Pandemi ini, membuat Chaos informasi dan pengetahuan mereka tentang penjaga kespro ini. “Kami bersama Kisara PKBI Bali, terus mengembangkan upaya penjangkauan ini,”ungkapnya.

“Kami memiliki program Gets Up Speak Out (GUSO) yang mengembangkan program sekolah SETARA (Semangat Dunia Remaja) bersama Rutgers WPF Indonesia dan Aliansi Satu Visi. Kami mengembangkan program online dengan aplikasi meeting, untuk terus memberikan pembelajaran dalam Modul SETARA yang telah kami miliki,”jelasnya.

Komang Sutrisna juga menuturkan, ada lima sekolah percontohan pendidikan Kespro di Kota Denpasar, yang kini terus kami jangkau untuk diberikan materi secara online. Materi diberikan oleh guru-guru yang terlatih sebelumnya, karena program sekolah SETARA ini kami sudah kembangkan dari tahun 2018 yang lalu. Lima sekolah percontohan ini, telah masuk dalam MoU dengan Pemerintah Kota Denpasar.

Selain itu, program online yang kita kembangkan adalah program BISIK (Bincang Asyik Kisara) yang menampilkan narasumber-narasumber yang berkompeten dan kredibel untuk membahas masalah-masalah seputar remaja, pergaulan, Kespro, Narkoba dan IMS/AIDS. BISIK yang dikembangkan terbuka ini, mendapat tanggapan secara luas. Selain karena folower Kisara dalam Medsos sudah ribuan, sehingga jangkaun terhadap remaja dalam kegiatan sangat baik.

PKBI Bali juga memiliki Klinik yang bernama Catur Warga. Klinik dengan pelayanan keluarga berencana, Kespro, IMS dan HIV/AIDS selama masa pandemi, menggunakan protap kesehatan yang dianjurkan. Penjangkaun terhadap keluarga ini, merupakan program hilir dari program remaja yang berada di hulu. Selain itu PKBI Bali juga termasuk bagian dari Forum Peduli AIDS Bali, yang menjadi mitra kerja KPA Bali selama ini

Dengan upaya terpusat pada preventif dan promotion, program remaja menjadi ujung tombak penjangkauan. Jika remaja sudah berperilaku bertanggung jawab, menjaga alat-alat reproduksinya secara bertanggung jawab, ketika mereka siap berkeluarga, mereka akan menjadi keluarga yang bertanggung jawab dan sejahtera, serta toleran terhadap kondisi saat ini.***

Reporter : Ida Ayu Masyeni KPA Prov Bali.

Editor : Yuniambara KPA Prov. Bali

Biodata :

Data Pribadi Nama : I Komang Sutrisna, SH

Tempat / tgl lahir : Denpasar, 30 April 1974

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama              : Hindu

Status               : Menikah Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat             : Jl. Kenyeri Gg. Tunjung No. 6 Denpasar

Telepon            : HP 082147315660

Data Keluarga Nama Istri :

Ni Ketut Sri Puspayanti Handayani

 

Nama Anak :

1. Pande Putu Nugrahita Prameswari Sutrisna

2. Pande Made Brahmanta Rajati Sutrisna

Nama Ayah Kandung : (Alm) I Wayan Jingga

Nama Ibu Kandung : (Alm) Ni Nengah Muratni

Alamat Orang Tua : Jl. Kenyeri Gang Tunjung No 6 Denpasar-Bali

 

Data Pendidikan:

SDN 5 Sumerta tamat tahun 1987

SMPN 8 Denpasar tamat tahun 1990

SMAN 1 Denpasar tamat tahun 1993

Fakultas Hukum Universitas Udayana tamat tahun 2000

Pendidikan Jurnalistik Tingkat Lanjut Pers Kampus, di UGM tahun 1995

Lulus Ujian Calon Advokat tahun 2016

Diklat Khusus Profesi Advokat (DKPA) tahun 2016

Disumpah dan Dilantik sebagai Advokat tahun 2017

 

Pengalaman Organisasi:

Ketua OSIS SMPN 8 Denpasar tahun 1988

Ketua OSIS SMAN 1 Denpasar tahun 1992

Pimpinan Redaksi Majalah Kerta Aksara FH Unud tahun 1995 – 1997

Ketua Senat Fakultas Hukum Unud tahun 1997

Koordinator Kisara PKBI Bali 1997 – 2000

Pengurus KNPI Kota Denpasar 2001 – 2002

Pengurus KNPI Propinsi Bali 2002 – 2006

Wakil Sekretaris PWI Bali 2015 – 2020

Sekretaris ORARI Kota Denpasar 2012-2018

Wakil Sekretaris Pengurus Daerah PKBI Bali

Ketua DPC dan LBH Kongres Advokat Indonesia (KAI) Kabupaten Bangli

Direktur Eksekutif Daerah PKBI Daerah Bali

 

Pengalaman Kerja

Koordinator Kisara PKBI Bali dari tahun 1997 sampai 2000.

Bekerja sebagai Wartawan di Kelompok Media Bali Post dari tahun 2000 sampai April tahun 2017.

Sebagai Advokat

Direktur Eksekutif Daerah PKBI Daerah Bali

Hoby: Jurnalistik, Puisi, Amatir Radio, Baca Buku dan Eksplorasi Alam

Moto Hidup: Bekerjalah dengan sepenuh hati dan keyakinan, maka hasilnya luar biasa