Wujudkan Three Zero HIV, KPA Bali Ajak YGD Kuatkan Peran PL

Denpasar, AIDSBALI.ORG  “Kita harus segera mewujudkan Three Zero HIV, sehingga penanganan Kasus HIV-AIDS di Bali bisa maksimal. Salah satunya adalah dengan menguatkan peran Petugas Lapangan (PL) dalam melakukan penjangkauan,”kata Pengelola Program Monitor dan Evaluasi KPA Provinsi Bali, Dian Febriana, SKM saat menjadi narasumber acara Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengetahuan dan Keterampilan Petugas Lapangan Yayasan Gaya Dewata (YGD) di Hotel Neo Jln Gatot Subroto Denpasar, Jumat 28 Agustus 2020 – Sabtu 29 Agustus 2020.

Acara tersebut dihadiri 24 orang Petugas Lapangan di 3 kabupaten di Bali yaitu Denpasar,  Badung dan Buleleng, serta petugas lapangan dari YGD Sendiri.

Dian Febriana,SKM didampingi Pengelola Program PMTS KPA Provinsi Bali, Drs Yahya Anshori,Msi memberikan beberapa konsep yang bisa digunakan Petugas Lapangan Gaya Dewata dalam melakukan penjangkauan lapangan.

Dalam satu sesi, Yahya Anshori pun memaparkan isi three Zero HIV yaitu menurunkan hingga mengeliminasi infeksi HIV baru, menurunkan hingga mengeliminasi kematian terkait HIV/AIDS dan menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Lebih lanjut, Yahya Anshori mengatakan, Situasi epidemi HIV di komunitas Gay,Waria dan LSL ( Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki) serta pengguna narkoba suntik ( Penasun ) di Indonesia masih menjadi perhatian , disebabkan masih tingginya angka prevalensi HIV dikelompok ini terus meningkat.

Dalam rangka meningkatkan kapasitas staf mitra SSR dan memastikan pelaksanaan kegiatan sesuai Definisi Operasional maka SR YPI melakukan kegiatan “Inhouse Training to Strengthen staff capacity in program implementation for implementing partners”. Kegiatan akan dilakukan di Kota Denpasar  dengan melibatkan wilayah penjangkauan  untuk Denpasar, Badung dan Buleleng.

Di sisi lain,sebagai narasumber, Dian Febriana menyarankan agar para ODHA tetap jaga Kesehatan, Terapkan Protokol Kesehatan, perlu saling mendukung untuk ketersediaan obat, ARV  obat TB dan obat-obat IO harus tetap berjalan, “Jangan gara-gara Covid, ARV terputus (putus Obat), jangan merasa kebal karena sudah minum ARV,”tegasnya.

Sedangkan Yahya Anshori menuturkan, dampak yang terjadi di pandemi Covid-19 salah satunya adalah penjangkauan terhenti, Konseling tes HIV berkurang dan Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) tidak ada atau dianjurkan tidak  ada. “Tantangan layanan ODHA saat Pandemi yaitu Pelayanan ARV harus tetap bisa berjalan karena ARV tidak boleh stop, Pengobatan IO jangka panjang seperti pada Terapi TB, Tokso, Hepatitis kronis harus tetap berjalan dan Pelayanan ARV harus tetap bisa berjalan karena ARV tidak boleh stop,”katanya.

Tantangan jaminan layanan dan stok obat pada saat pandemi, lanjut Yahya diantaranya stok ARV harus cukup, stok obat-obat an untuk Infeksi Opportunistik (IO) harus cukup dan klinik layanan yang ada di Puskesmas, Klinik khusus HIV berjalan seperti biasa sehingga pasien bisa berobat secara berkelanjutan.***

Reporter : Ni Made Yuliati KPA Provinsi Bali

Editor : Yuniambara KPA Provinsi Bali